Editorial story
Sebuah Cerita dari Dimensi Lain

Sebuah Cerita dari Dimensi Lain: Ruang yang Ditinggal Terbuka

Cerita pendek tentang jarak yang pelan-pelan terjadi, dan cara seseorang memilih menunggu tanpa memaksa pintu itu terbuka lagi.

Fala Syam
Fala Syam
9 Agustus 2026 • 3 min read
Written with intention.

Dira berhenti di ujung gang, bukan karena capek jalan, tapi karena dia sadar langkah Aluna sudah nggak sejajar lagi sama langkahnya sejak beberapa waktu lalu.

Dulu, Aluna cerita semua. Jam berapa dia bangun, kenapa dia telat makan siang, kenapa hatinya berat pas ketemu Bapaknya di telepon, bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya nggak penting tapi jadi penting karena dia yang cerita. Sekarang, kalau ditanya kabar, jawabannya cuma satu jenis: "Lagi banyak kerjaan." Rapi. Aman. Nggak ada celah buat ditanya lebih jauh.

Yang bikin Dira bingung bukan diamnya, tapi ketimpangannya. Aluna masih bisa ketawa di grup, masih jawab ajakan menghabiskan waktu bersama orang lain, masih cerita panjang lebar ke siapa saja selain Dira. Story-nya masih ramai, masih ada dia makan bareng teman, nonton, ngopi sore-sore. Cuma pintu yang satu itu yang ditutup pelan-pelan, tanpa suara berdebam, tanpa alasan yang jelas.

Dira sempat mikir, mungkin dia yang salah baca situasi. Mungkin Aluna memang sedang capek, dan kebetulan aja waktunya bareng sama waktu dia jadi jarang cerita ke Dira. Tapi semakin dipikir, semakin kelihatan bedanya. Kalau sedang capek, biasanya orang jadi diam ke semua orang. Bukan cuma diam ke satu orang saja.

Suatu malam Dira akhirnya nanya langsung, "Ada apa sih? Kok belakangan beda?"

Aluna jawab, "Nggak apa-apa kok. Cuma lagi capek aja."

Jawaban yang sopan. Jawaban yang nggak salah, tapi juga nggak jujur seutuhnya. Dira nggak marah, dia cuma merasa berdiri di ambang sesuatu yang dulu terasa seperti rumah, dan sekarang terasa seperti ruang tamu orang asing yang cuma dibuka kalau perlu basa-basi.

Dia coba lagi beberapa hari kemudian, dengan cara yang lebih hati-hati. "Kamu nggak harus cerita semuanya kalau memang belum siap. Tapi aku pengin tahu, ini soal aku, atau soal kamu yang lagi berat sendiri?"

Aluna nggak jawab malam itu. Baru besok paginya dia bales, singkat, "Bukan soal kamu kok."

Tiga kata itu harusnya bikin lega. Tapi entah kenapa malah bikin Dira makin nggak tenang, karena kalau bukan soal dia, kenapa cuma dia yang kena dampaknya.

Dia pikir, mungkin ini bukan soal ditinggalkan. Aluna nggak pergi, nggak menghindar sepenuhnya. Dia cuma mundur ke jarak yang dia rasa aman, seperti orang yang menutup satu jendela di rumah, tapi meninggalkan pintu depan tetap terbuka, seolah bilang: kamu masih boleh di sini, tapi jangan tanya apa yang ada di kamar belakang.


Dira nggak tahu apakah itu bentuk sayang yang aneh, atau bentuk lelah yang dibungkus rapi. Yang dia tahu, dia capek jadi orang yang terus-terusan berdiri di depan pintu setengah terbuka, menebak-nebak kapan boleh masuk lagi. Ada hari-hari dia mau menyerah saja, biar Aluna yang menentukan sendiri kapan mau buka pintu itu lagi. Tapi ada juga hari-hari dia takut, kalau dia berhenti menunggu, pintu itu malah ditutup selamanya.


Jadi malam itu dia nggak maksa. Dia cuma bilang, pelan, lewat pesan yang dia tulis ulang tiga kali sebelum kirim, "Kalau kamu butuh ruang, aku ngerti. Tapi kalau suatu hari kamu capek sendirian, aku masih di sini, bukan di seberang jalan, tapi di depan pintu yang sama."


Aluna cuma bales dengan satu emoji, tanpa kata-kata. Dira nggak tahu itu artinya apa. Tapi dia putuskan untuk nggak nanya lagi malam itu.


Lalu dia pulang. Bukan karena menyerah, tapi karena dia sadar, kadang cara paling jujur untuk sayang sama seseorang adalah berhenti maksa mereka buka pintu yang belum siap dibuka, sambil tetap nggak beranjak dari depan rumah itu. Meski itu berarti dia harus belajar berdiri lama, tanpa tahu sampai kapan.