Editorial story

Director's Cut: Kembang Api Milikku

Cerita pendek tentang memori, obsesi visual, dan sebuah momen yang dipaksa menyala terlalu terang hingga akhirnya lenyap tanpa sisa.

Fala Syam
Fala Syam
31 Juli 2026 • 2 min read
Written with intention.


Malam ini, aku tidak hanya memutar ulang raw footage yang menampilkan wajahnya di bawah letupan kembang api, tetapi aku juga menyalakan rekaman audionya—sesuatu yang selama ini selalu ku-mute karena aku terlalu asyik mengagumi keindahan visualnya saja.


Saat aku mendengarkan lebih saksama, di sela-sela dentuman kembang api dan riuhnya festival, aku mendengar suaranya yang sedikit bergetar dan lelah. "Kamu tidak mau meletakkan kameramu sebentar?" tanyanya malam itu.


Aku menekan tombol pause. Keheningan merayap masuk ke dalam ruang kerjaku, membawa serta kesadaran yang menampar keras.

Selama ini aku menyalahkannya karena berubah menjadi asing dan perlahan memudar, namun aku lupa bercermin pada lensa kameraku sendiri. Kembang api kami mungkin tidak padam begitu saja karena sifatnya yang sementara; mungkin, aku yang mencekiknya dengan ekspektasiku sendiri.

Sejak awal, aku memperlakukannya seperti subjek panggung yang harus selalu tampil sempurna, bukan sebagai manusia yang punya celah. Setiap kali hubungan kami menemui perbedaan, aku mencoba memaksakan perbaikan layaknya mengetikkan baris perintah kompilasi secara paksa pada terminal sistem, menuntut agar konfigurasi perasaannya selalu tunduk pada script yang ada di kepalaku. Aku terlalu sibuk mengatur environment hubungan kami agar pas dengan skenarioku, tanpa memberinya ruang bernapas yang natural.

Lebih parah lagi, saat fase manis itu mulai mereda, aku menjadi terlalu analitis. Aku sibuk menyeleksi dan memfilter setiap interaksi kami seperti sedang membersihkan baris-baris data. Aku mencari-cari kesalahan, menyortir mana sikapnya yang tak lagi sesuai dengan ekspektasi awal. Saking asyiknya membuang bagian-bagian yang kuanggap "kurang", aku tanpa sadar justru menghilangkan elemen terpentingnya: koneksi dua arah yang seharusnya saling bertaut erat. Aku menyingkirkan validasi dan usaha timbal baliknya, seolah interaksi yang saling mengimbangi itu sengaja kuhapus dari daftar hanya karena tidak pas dengan parameter algoritmaku.

Cahaya yang over-exposed itu ternyata bukan murni karena pesonanya yang membutakan, melainkan karena aku yang memaksakan exposure kamera ini hingga batas maksimal. Aku menuntutnya untuk selalu bercahaya terang menerangi malamku, tanpa peduli bahwa sumbunya perlahan terbakar habis karena kelelahan.

Pada akhirnya, ia tidak sekadar memudar lalu pergi. Ia melangkah mundur karena lelah terus-menerus diarahkan oleh seseorang yang lebih sibuk menangkap momen, daripada benar-benar hidup di dalam momen itu bersamanya.

Aku menyandarkan kepala pada telapak tanganku, menatap layar yang kini gelap. Kembang api itu telah menjadi abu, dan untuk pertama kalinya, aku berani mengakui bahwa aku ikut memegang pemantiknya saat apinya dipaksa padam.